Oleh: Aku Anak Indonesia | November 7, 2010

Vegetarian dan Kurangi Makan Daging, Ikut Selamatkan Bumi

Vegetarian dan Kurangi Makan Daging, Ikut Selamatkan Bumi

Topik pembahasan pemanasan global yang terbaru menyebutkan bahwa  berdasarkan fakta yang ada peternakan dan industri daging merupakan salah satu penyebab terbesarnya. Tampaknya topik tersebut akan harus digabungkan dengan isu pencegahan laju pemanasan global, masih dilakukan hanya sebatas hemat listrik, hemat air, hemat BBM, dan menggencarkan bersepeda. Kurangi konsumsi daging, bukan hanya demi kesehatan manusia, tapi juga demi kesejahteraan hewan dan keselamatan bumi di masa datang.

Kunci terdekat keberhasilan masyarakat untuk mencegah terjadinya pemanasan global adalah dengan merubah pola perilaku manusia. Semua dari kita dapat berpartisipasi mengatasi pemanasan global dengan langkah sederhana yaitu dengan cara mengurangi makan daging berlebihan. Kurangi makan daging, karena dengan mengurangi makan daging berarti mengurangi peternakan. Peternakan sapi, kambing, kerbau, domba maupun unggas sangat berperan dalam pemanasan global. Dengan mengurangi makan daging, yang berarti pula mengurangi peternakan maka akan berdampak kepada lahan untuk dihijaukan yang berfungsi sebagai hutan. Pemanasan global bisa dikurangi dengan menggalakkan pola pemupukan organik yang diyakini bisa memperkaya oksigen. Bisa menjadi orang tidak makan daging sama sekali (vegetarian) berarti secara individu telah ikut mengurangi gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global.Vegetarian sangat dianjurkan guna mengurangi pemanasan global. Vegetarian, di samping menjaga kesehatan tubuh, juga berarti mengurangi konsumsi daging. Vegetarian tak cuma baik bagi tubuh tapi juga lingkungan. Laporan utama PBB menyerukan penduduk dunia perlu mengubah kebiasaan makan daging dan beralih menjadi vegetarian untuk mengatasi masalah perubahan iklim.

Bagaimana Mengurangi Konsumsi daging dapat selamatkan Bumi

Pada tahun 2006, Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) mengeluarkan laporan “Livestock’s Long Shadow” dengan kesimpulan bahwa sektor peternakan merupakan salah satu penyebab utama pemanasan global. Sumbangan sektor peternakan terhadap pemanasan global sekitar 18%, lebih besar dari sumbangan sektor transportasi di dunia yang menyumbang sekitar 13,1%. Selain itu, sektor peternakan dunia juga menyumbang 37% metana (72 kali lebih kuat daripada CO2 selama rentang waktu 20 tahun), dan 65% nitro oksida (296 kali lebih kuat daripada CO2).

Berbagai faktor dan mekanisme secara langsung atau tidak langsung menunjukkan bahwa sektor peternakan yang menyumbang emisi gas rumah kaca. Menurut FAO:

Emisi karbon dari pembuatan pakan ternak

  • Penggunaan bahan bakar fosil dalam pembuatan pupuk menyumbang 41 juta ton CO2 setiap tahunnya
  • Penggunaan bahan bakar fosil di peternakan menyumbang 90 juta ton CO2 per tahunnya (misal diesel atau LPG)
  • Alih fungsi lahan yang digunakan untuk peternakan menyumbang 2,4 milyar ton CO2 per tahunnya, termasuk di sini lahan yang diubah untuk merumput ternak, lahan yang diubah untuk menanam kacang kedelai sebagai makanan ternak, atau pembukaan hutan untuk lahan peternakan
  • Karbon yang terlepas dari pengolahan tanah pertanian untuk pakan ternak (misal jagung, gandum, atau kacang kedelai) dapat mencapai 28 juta CO2 per tahunnya. Perlu Anda ketahui, setidaknya 80% panen kacang kedelai dan 50% panen jagung di dunia digunakan sebagai makanan ternak.
  • Karbon yang terlepas dari padang rumput karena terkikis menjadi gurun menyumbang 100 juta ton CO2 per tahunnya

Emisi karbon dari sistem pencernaan hewan

  • Metana yang dilepaskan dalam proses pencernaan hewan dapat mencapai 86 juta ton per tahunnya.
  • Metana yang terlepas dari pupuk kotoran hewan dapat mencapai 18 juta ton per tahunnya.

Emisi karbon dari pengolahan dan pengangkutan daging hewan ternak ke konsumen

  • Emisi CO2 dari pengolahan daging dapat mencapai puluhan juta ton per tahun.
  • Emisi CO2 dari pengangkutan produk hewan ternak dapat mencapai lebih dari 0,8 juta ton per tahun.

Industri peternakan terkait erat dengan pola konsumsi daging. Baru-baru ini, badan PBB yang lain, yaitu United Nations Environment Program (UNEP) menegaskan dalam buku panduan “Kick The Habit” bahwa pola makan daging untuk setiap orang per tahunnya menyumbang 6.700 kg CO2.9 Saat ini, penduduk Bumi berjumlah sekitar 6,7 miliar orang. Bila 5 miliar orang di antaranya adalah pemakan daging, coba Anda hitung berapa triliun CO2 yang dihasilkan setiap tahunnya? Kita perlu memprogram ulang kebiasaan makan kita. Dan Anda perlu tahu, vegetarian, menurut laporan UNEP, hanya menyumbang 190 kg CO2 per tahunnya.

Menurut data bappenas tahun 2002, Indonesia mengkonsumsi 1,2 juta ton daging. Apabila sapi rata-rata beratnya 300kg, berarti hampir 11 ribu ekor sapi dikonsumsi dalam sehari. Bayangkan lahan yang harus kita sediakan untuk memberi makan 11 ribu sapi setiap harinya. Negara-negara barat lebih banyak lagi mengkonsumsi daging perk kapitanya. Menurut suatu survey, babi adalah daging yang paling banyak dikonsumsi manusia, jumlahnya mencapai 3 juta ekor per hari. Suatu angka yang luar biasa banyaknya. Bumi ini sudah dipenuhi oleh terlalu banyak hewan ternak sehingga megambil jatah makanan dan lahan produktif bagi manusia.

Study FAO menyatakan bahwa hasil produksi kacang-kacangan dan biji bijian mencapai 21 miliar ton tahun 2008. Namun 40% saja yang sampai ke perut manusia, sisanya 50% dipakai untuk pakan ternak itu sendiri, dan 10% dipakai untuk produksi biodiesel dan ethanol. Ini menyebabkan harga makanan tinggi karena distribusi tidak merata dan hanya bisa dijangkau oleh negara-negara yang mampu. Negara-negara dan daerah miskin tentu tidak bisa menjangkau distribusi makanan dan akibatnya kelaparan terjadi.

Sebesar 50% lebih emisi gas rumah kaca dihasilkan dari peternakan. Data ini dilansir dari penelitian T Collin C pada tahun 2009. Berkembangnya sektor peternakan belakangan ini merupakan akibat dari permintaan makanan hewani yang semakin besar. Bisa dibayangkan bahwa semakin berkembangnya jumlah peternakan, semakin besar emisi gas rumah kaca yang menyumbang pada pemanasan global. Kenyataannya, sebesar 2/3 hasil pertanian diperuntukkan untuk peternakan, sedangkan hanya 1/3 yang diperuntukkan bagi manusia. Besarnya kebutuhan pakan ternak, menuntut pula kecepatan dalam memanen hasil pertanian. Kondisi ini mengakibatkan cara-cara bertani organik mulai ditinggalkan dan penggunaan pupuk kimia dalam jumlah besar dipandang sebagai solusi tercepat untuk merangsang pertumbuhan tanaman pertanian. Padahal, seperti diketahui, pupuk kimia sangat berbahaya bagi lingkungan. Belum lagi besarnya jumlah kotoran ternak yang tidak terolah, menghasilkan metana yang sangat besar.

Kelompok ilmuwan internasional mengatakan penyebab penyebab utama perubahan iklim dan degradasi lingkungan.

International Panel of Sustainable Resource Management (IPSRM) menunjukkan produksi peternakan menyumbang 70 persen polusi air bersih secara global, 30 persen penggunaan tanah dan 19 persen emisi gas rumah kaca dunia. Laporan tersebut yang akan disampaikan kepada pemerintahan seluruh dunia.

Menjadi vegetarian adalah satu-satunya cara memberi makan penduduk dunia sambil mengurangi perubahan iklim. Penurunan dampak yang signifikan hanya mungkin terjadi dengan perubahan diet dan pola makan yang signifikan pula di seluruh dunia.

“Manusia bisa membantu memerangi perubahan iklim dunia dengan mengurangi makan daging,” ujar Achim Steiner, Direktur Eksekutif Program Lingkungan PBB, seperti dilansir dari Telegraph, Jumat (4/6/2010).

IPSRM telah mengkaji semua data ilmiah yang ada dan menyimpulkan bahwa dua bidang utama saat ini yang memiliki dampak amat tinggi pada sistem pendukung kehidupan planet ini adalah energi dalam bentuk bahan bakar fosil dan peternakan, khususnya peningkatan ternak untuk daging dan produk susu.

terbesar emisi gas rumah kaca adalah produksi makanan dan penggunaan bahan bakar fosil.

Ilmuwan mengatakan, penggunaan batubara dan minyak bumi secara bertahap dapat digantikan oleh sumber energi terbarukan seperti angin dan matahari. Tapi penduduk dunia akan selalu membutuhkan makan.

Karena populasi dunia yang terus meningkat, dikhawatirkan bahwa produksi makanan akan menjadi

Masalah lahan produktif juga menjadi perhatian. Suatu study membandingkan keluarga miskin beranggotakan lima orang di Bangladesh bisa hidup dengan 4000m2 tanah yang ditanam dan hidup tanpa mengkonsumsi daging, namun keluarga beranggotakan lima orang rata-rata di Amerika yang mengkonsumsi daging memerlukan 8 hektar (20 kali lipat) untuk mereka dan ternak yang dikonsumsinya. Dengan banyaknya jumlah ternak yang dikonsumsi seluruh dunia, kotoran hewan juga tentunya begitu banyak berpotensi mencemarkan lingkungan. Walaupun konversi dilakukan untuk produksi biogas dan sebagainya, kotoran hewan ternak bertanggung-jawab untuk 28% emisi methane dan gas rumah kaca ke atmosfir. Tentunya ini adalah efek yang negatif juga mengkontribusikan kepada pemanasan bumi. Jumlah emisinya pun sangat tinggi dibandingkan dengan emisi kendaraan bermotor dan industri.

World Watch Institute, dalam Watch Magazine edisi November/Desember 2009 menyebut industri peternakan dunia menyumbang sedikitnya 51 persen gas rumah kaca penyebab pemanasan global. World Watch Institute adalah organisasi riset independen di AS yang berdiri sejak 1974. Organisasi ini dikenal kritis terhadap isu lingkungan dan hanya bersuara berdasarkan fakta. Laporan dari World Watch Insitute banyak digunakan lembaga bergengsi seperti Greenpeace.
   
Dalam menghitung angka 51persen tadi, pijakannya adalah data dari FAO yang diolah dengan memasukkan faktor lain seperti emisi gas metana yang dihasilkan dari sendawa sapi, dan kotoran sapi. Gas metana adalah salah satu gas penyebab pemanasan global. Menurut NASA-divisi penerbangan luar angkasa-kekuatan metana 100 kali lipat ketimbang CO2.
   
Sekitar 16.000 liter air bersih dan sekitar 8 kg biji-bijian harus dihabiskan hanya untuk menghasilkan 1 kg daging. Keseluruhan aktivitas peternakan dan pemrosesan daging, kata Prasasto, amat boros energi. Mulai dari transportasi untuk ternak, listrik untuk menghangatkan peternakan, pendingin, dan alat-alat. Sampai di rumah, daging masuk kulkas. Saat dimasak pun, daging sulit empuk yang artinya boros elpiji/minyak tanah.  

Pengolahan pembuangan sampah yang baik sampah, utamanya sampah kotoran ternak. ¼Kotoran ternak ini jika diolah dengan baik, dapat menjadi sumber energi alami, sekaligus pupuk yang aman bagi lahan pertanian. Namun demikian, tantangan tersulit agar masyarakat kembali pada pola hidup yang alami/organik adalah kebiasaan serba instan. Masyarakat itu ingin praktisnya saja, tidak mau repot, itu yang menjadi masalah utama.

Meluangkan satu hari tanpa daging akan membantu mengurangi efek global warming dan menyelamatkan planet (bumi). Pengurangan konsumsi daging dan menggantinya dengan sayuran merupakan upaya mudah dalam menurunkan efek gas rumah kaca. Langkah ini dinilai jauh lebih efektif dibandingkan dengan pengurangan BBM. Pasalnya, sehari tanpa daging dalam seminggu ini dapat dilakukan oleh semua kalangan, mulai dari balita sampai yang lanjut usia.

Hasil riset Worldwatch Institute menunjukkan dalam kurun waktu 20 tahun, seiring meningkatnya kesejahteraan dan jumlah penduduk negara berkembang seperti Tiongkok dan India, maka konsumsi daging juga akan melonjak. Secara langsung gas metana yang dihasilkan juga bertambah banyak. Padahal, gas hasil industri daging ini jauh lebih jahat dibandingkan dengan karbondioksida hasil pembakaran kendaraan. Sekitar 18 persen dari jumlah gas rumah kaca di dunia dihasilkan dari produksi peternakan.

Namun, kampanye mengurangi konsumsi daging ini juga ditentang beberapa pihak terutama asosiasi peternak sapi. Beberapa kelompok itu menyatakan bahwa  konsumsi daging bukanlah kontributor terbesar dalam perubahan iklim saat ini. Diet tanpa daging merupakan sebuah isu sensitif. Beberapa orang memang mengkonsumsi daging secara berlebih, namun masih banyak hal lain yang bisa dilakukan dalam upaya menurunkan efek gas rumah kaca.

Hari Penghapusan Daging

Pada tanggal 30 Januari, Hari Dunia untuk Penghapusan Daging tahunan yang kedua diadakan di lebih dari 50 kota di negara-negara di seluruh Eropa, dan juga Afrika Selatan, Bolivia, Brasil, AS, dan India.  Hari Dunia untuk Penghapusan Daging adalah gerakan yang terus tumbuh yang dimaksudkan sebagai upaya mengakhiri penyembelihan sedikitnya enam juta makhluk hidup di seluruh dunia setiap jamnya untuk konsumsi daging. Dan jumlah ini belum termasuk industri perikanan dan industri lainnya yang memproduksi produk hewani.

Upaya ini mencoba menyerukan kepada para pemerintah untuk mempromosikan pertanian vegan, bukan hanya tidak mengeksploitasi hewan tapi juga lebih ramah terhadap tanah dan lingkungan, juga dapat memberi makan lebih banyak orang dengan lahan yang lebih kecil.

Beberapa pihak merekomendasikan pemerintah agar bisa mendorong orang untuk mengurangi makan daging dengan mengubah sistem pajak dan memberikan subsidi makanan vegetarian menjadi lebih murah. Tindakan secara ekonomi untuk memerangi perubahan iklim dipercaya dapat dilakukan dengan mengurangi makan daging. Mungkin harga daging dan makanan ‘karbon intensif’ lainnya harus dinaikkan agar orang beralih menjadi vegetarian dan dapat menyelamatkan bumi.

Provided by

Sandiaz Yudhasmara

SAVE THE EARTH FOR NEXT GENERATION. Yudhasmara Foundation

 Working together support to Save The Green Earth . Help Me Save The Earth 

email :  judarwanto@gmail.com   Office : JL Taman bendungan Asahan 5 Bendungan Hilir Jakarta Pusat 10210  Phone : (021) 70081995 – 5703646 

Supported by  : CLINIC FOR CHILDREN Yudhasmara Foundation   www.childrenclinic.wordpress.com/  SUPPORT TO THE HEALTH OF ALL CHILDREN BY CLINICAL, RESEARCH AND EDUCATIONS.  Advancing of the future pediatric and future parenting to optimalized physical, mental and social health and well being for fetal, newborn, infant, children, adolescents and young adult    

Copyright © 2010, Save The Earth For Next Generation. Information Education Network. All rights reserved


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori