Oleh: Aku Anak Indonesia | November 7, 2010

Untung Ruginya Emisi Gas CO2, Amerika Penyumbang Terbesar Indonesia Nomer 7

Untung Ruginya Emisi Gas CO2

Amerika Penyumbang Terbesar, Indonesia Nomer 7

Negara Amerika Serikat ternyata penyumbang emisi gas rumah kaca (Carbon Dioksida/CO2) yang  mempengaruhi langsung komposisi atmosfer sehingga terjadinya perubahan iklim dan pemanasan global.  Urutan kedua ditempati negara Uni Soviet, disusul Cina, Brazil, India, Jepang, sedangkan Indonesia berada pada urutan ketujuh.  Gas emisi C02 sangat mempengaruhi perubahan iklim bumi. Dengan semakin meningkatnya CO2 maka bumi akan semakin panas.  Aktivitas manusia dalam pembangunan sering menggunakan energi yang bersumber dari fosil dan energi lain yang menghasilkan gas emisi rumah kaca.

Perubahan iklim penyebab pemanasan global tidak hanya disebabkan emisi C02 tapi bisa disebabkan penggunaan energi transpotasi dan industri serta perambahan hutan. Untuk dunia penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar berasal dari sektor transpotasi dan industri.  Pada dasarnya pemanasan global bisa dikurangi jika penggunaan fosil dan energi lainnya dikurangi sebanyaknya-banyaknya.  Pengurangan tersebut menyebabkan kondisi suhu bumi akan semakin baik atau laju peningkatan perubahan iklim bisa diperlambat.

Gas Emisi CO2

Gas CO2 merupakan salah satu gas rumah kaca, sedangkan SOx dan NOx merupakan polutan yang bilamana terhirup manusia dalam jumlah yang banyak maka bisa membahayakan kesehatan manusia. Selain itu gas SOx dan NOx bilamana teroksidasi dan larut dalam tetes-tetes awan dapat menjadikan hujan menjadi hujan asam, yang mana hujan asam ini berdampak buruk terhadap lingkungan.

Data yang digunakan adalah data tahun 1992 sampai 2002 berupa jumlah penduduk, GDP, serta emisi CO2, NOx dan SOx sebagai hasil perhitungan emisi akibat pemakaian energi yang dilakukan oleh Pengkajian Energi Universitas Indonesia. Sedangkan jumlah penduduk, GDP, emisi CO2, NOx dan SOx dari tahun 2003 sampai 2020 adalah merupakan hasil model INOSYD (Indonesia Energy Outlook by System Dynamic). Sebagai kesimpulan diperoleh bahwa emisi gas CO2 yang terbesar berasal dari pembangkit listrik kemudian diikuti oleh sektor industri, emisi gas NOx yang terbesar berasal dari sektor transportasi, emisi gas SOx terbesar berasal dari sektor rumah tangga, baik emisi NOx per kapita maupun emisi SOx per kapita dari tahun ke tahun cenderung naik, umumnya emisi gas NOx per kapitanya lebih besar dari pada gas SOx, emisi gas NOx per GDP-nya umumnya lebih besar dari pada gas SOx, namun keduanya berfluktuasi, emisi gas CO2 per kapita cenderung meningkat, tetapi emisi CO2 per GDP berfluktuasi

PADA prinsipnya, gas C02 sangat bermanfaat dalam menopang kehidupan bumi. Di atmosfer, keberadaan gas CO2 merupakan bahan fotosintesis tumbuhan hijau dan sifat rumah kacanya menjaga kesetimbangan suhu bumi. Banyak proses industri dalam ruang tertutup menggunakan gas CO2. Konsentrasi yang semakin meningkat di atmosfer menyebabkan kekhawatiran akan pemanasan global yang semakin tinggi. Dalam proses pembentukan CO2, banyak senyawa lain yang ikut dihasilkan dan perubahan fisik yang terjadi. Senyawa selain CO2 dan perubahan fisik inilah sebenarnya yang berpotensi lebih berbahaya dibandingkan dengan C02-nya sendiri.

Senyawa dan perubahan fisik apa saja yang menyertai pelepasan CO2 ke atmosfer tergantung pada sumber dan prosesnya. Untuk mengetahui hal itu harus dikaji setiap sumber atau aktivitas yang menghasilkan CO2. Sumber utama CO2 adalah pembakaran bahan bakar fosil yang menyumbang sekitar 74 persen dari emisi total. Sumber CO2 kedua adalah deforestasi, baik melalui proses pembusukan maupun pembakaran menyumbang 23 persen. Sisanya, kurang dari 4 persen berasal dari industri, terutama industri semen, oksidasi CO di troposfer, dan proses alamiah lainnya.

Proses pembakaran bahan bakar fosil dan pembakaran biomasa hutan hampir sama. Unsur utama bahan bakar, baik bahan bakar fosil maupun biomasa adalah karbon. Ketika terbakar sempurna, unsur karbon tersebut menjadi CO2. Besarnya tingkat kesempurnaan pembakaran biasa disebut combustion efficiency (efisiensi pembakaran). Pada intinya, combustion efficiency meningkat jika pasokan oksigen selama proses pembakaran berlangsung tercukupi.Combustion efficiency bahan bakar fase gas paling tinggi, dan fasepadat paling rendah. Efisiensi pembakaran bahan bakar gas rata-rata 99.5 persen, bahan bakar minyak paling tinggi 99 persen jika kondisi pembakaran bagus. Batu bara dan biomasa dalam kondisi kering paling tinggi 98 persen, jika kayu dalam kondisi basah atau tidak ada aliran udara ke dalam sistem pembakaran yang memadai maka koefisien pembakaran hanya 85 persen.

Unsur karbon yang terbakar tidak sempurna terbentuk menjadi senyawa gas monoksida (CO), hidrokarbon (HC), terutama metan (CH4), dan partikulat (asap, abu, jelaga). Gas CO2 adalah produk pembakaran yang paling kecil dampak-negatifnya terhadap lingkungan. Gas CO2 hanya bersifat rumah kaca dengan nilai GWP sangat kecil dibandingkan dengan CH4 yang merupakan produk lain dari pembakaran karbon. Gas CO bersifat polutan yang membahayakan kesehatan bahkan bisa menyebabkan kematian, demikian juga hidrokarbon. Partikulat karbon merupakan polutan yang berdampak buruk pada kesehatan mata dan pernapasan, terutama jika ukurannya kurang dari 10 m karena partikulat berpotensi masuk ke sistem peredaran darah.

Di troposfer, hidrokarbon melalui rekasi yang rumit akan terbentuk menjadi CH4 dan CH4 menjadi CO dan selanjutnya menjadi CO2. Jadi untuk meminimalkan dampak negatif di udara, karbon dalam bahan bakar terbakar menjadi CO2. Oleh karena itu, diantara bahan bakar yang paling kecil dampak negatifnya terhadap lingkungan atmosfer adalah bahan bakar gas. Semakin ke bentuk padat, semakin banyak unsur karbon yang terbentuk menjadi selain CO2 yang jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan CO2.

Pengalihan penggunaan minyak tanah ke gas sangat baik untuk memperbaiki lingkungan udara karena gas memiliki efisiensi pembakaran paling tinggi, hampir 100 persen, maka hanya sedikit sekali unsur karbon yang terbentuk menjadi CO ataupun hidrokarbon dan partikulat. Gas juga tidak ada unsur sulfur yang akan membentuk polutan SO2.

Akibat pembakaran bahan bakar, bukan hanya senyawa CO, hidrokarbon, dan partikulat karbon saja yang menyertainya. Pada pembakaran bensin untuk kendaraan bermotor ada partikulat timbal. Unsur sulfur dalam solar, batu bara, dan biota menjadi sumber SO2 yang mengganggu sistem pernapasan dan iritasi mata, dan juga sistem transportasi karena berkurang jarak pandang.

Panas yang tinggi pada proses pembakaran menjadi sumber NOx (NO dan NO2). Unsur nitrogen dalam biomasa terbakar menjadi senyawa nitrogen yang berbahaya juga seperti NOx, NH3, dan N2O. Bahan bakar solar, batu bara, dan biomasa mengandung sulfur yang apabila dibakar membentuk senyawa SO2.Dampak senyawa selain CO2 sangat kompleks dibandingkan dengan CO2. NOx dan karbon monoksida (CO) merupakan precursor ozon (O3) di atmosfer bawah. Ozon pada atmosfer bawah, selain bersifat polutan juga merupakan gas rumah kaca. SO2, NH3, dan NOx berdampak pada pembentukan hujan asam.

Debu partikel selain menyebabkan iritasi mata dan gangguan penglihatan karena berkurang jarak pandang, partikulat dengan ukuran kurang dari 10 m dapat masuk ke dalam sistem pernapasan dan akhirnya ikut dalam peredaran darah. Tentunya hal itu sangat berbahaya. Jika partikulat itu timbal yang masih ada dalam bensin kita, maka akan menyebabkan gangguan ginjal dan menurunkan kecerdasan anak. Bahkan timbal ini terakumulasi dalam darah sehingga anak yang dikandung atau disusui oleh ibu yang tercemar timbal akan berisiko ber-IQ rendah.

Deforestasi yang dituding menyumbang 23 persen emisi CO2, memiliki dampak negatif lain yang seharusnya mendapat perhatian. Dampak pertama dari deforestasi adalah berkurangnya keanekaragaman hayati, berkurangnya kesuburan tanah, siklus hidrologi terganggu sehingga berdampak pada bencana banjir dan tanah longsor saat musim hujan dan kekeringan saat musim kemarau. Perubahan lahan akibat deforestasi juga berdampak pada kenaikan suhu udara yang dikenal sebagai urban heat island.

Oleh karena itu, kegiatan reduksi emisi CO2 dalam tujuan menekan pemanasan global mempunyai tujuan ekologis lain yang lebih besar nilainya. Kalau penanganan pemanasan global hanya sekadar menekan CO2, sebenarnya masalah pemanasan global bukan hanya CO2 saja yang menjadi penyebabnya tetapi senyawa lain yang menyertai terbentuknya CO2, dan dampaknya sudah sangat terasakan dalam merusak lingkungan serta mengganggu kesehatan

Tanpa Emisi CO2, Bumi Akan Menuju Jaman Es

Pergeseran terjadwal orbit Bumi akan membuat Bumi mengalami Jaman Es ribuan tahun dari sekarang, namun kejadian ini mungkin dapat dicegah akibat gas rumah kaca buatan manusia, para ilmuwan menyatakan. Namun begitu, mereka memperingatkan bahwa berita ini bukan sebagai alasan mendukung pemanasan global, yang sudah terbayang di depan mata dengan dampaknya yang merusak terhadap sistem iklim. Bumi telah mengalami periode panjang musim dingin ekstrem pada miliaran tahun silam dalam sejarahnya. Musim dingin yang sangat menggigit diselang-selingi dengan periode “interglasial” yang relatif hangat, merupakan periode yang telah kita alami sejak berakhirnya Jaman Es, sekitar 11.000 tahun silam.

Perubahan iklim ini ada penyebab alamiahnya, yang diyakini terutama berakar dari perubahan orbit dan sumbu Bumi, sekalipun sebentar, memiliki dampak yang besar sekali atas bagaimana panas sinar Matahari jatuh pada permukaan planet Bumi.

Dua peneliti membangun sebuah model komputer berkuatan tinggi untuk melihat dengan seksama pada fase-fase dingin dan hangat ini. Di samping perubahan keplanetan, mereka juga memperhatikan level karbon dioksida (CO2), yang ditemukan dalam gelembung kecil pada inti es, yang memberikan indikator suhu yang berlangsung ratusan ribu tahun. Mereka menemukan perubahan dramatis dalam iklim, termasuk perubahan ketika Bumi berubah dari satu keadaan ke kondisi lainnya dalam waktu yang relatif singkat, kata salah satu pengarang, geosaintis Thomas Crowley dari Universitas Edinburgh, Skotlandia. Pergeseran-pergeseran ini, yang disebut “pencabangan dua”, tampaknya terjadi dalam rangkaian yang tiba-tiba, yang bertentangan persepsi bahwa planet Bumi mengalami masa dingin atau panas dengan perlahan.

Menurut model itu, yang disiarkan dalam jurnal Inggris Nature oleh Crowley dan fisikawan William Hyde dari Universitas Toronto, Kanada, “pencabangan” biasanya akan terjadi antara 10.000 hingga 100.000 tahun dari sekarang. Iklim yang dingin akan memicu periode beku yang panjang dan stabil pada kawasan di garis lintang bagian tengah, melimpahi Eropa, Asia dan Amerika Utara hingga ke garis lintang 45-50 derajat dengan lapisan es tebal.

Imbangi pendinginan

Namun begitu, kini ada begitu banyak CO2 di udara, sebagai hasil pembakaran bahan bakar fosil dan penggundulan hutan, dan ini memperbesar dampak gas rumah kaca yang memerangkap panas yang akan mengimbangi pengaruh pendinginan daeri pergeseran orbit, tutur Crowley,seperti dikutip AFP. “Bahkan level yang ada saat ini lebih dari cukup untuk mencapai kondisi yang menentukan yang tampak pada model itu,” katanya. “Jika mengurangi sedikit CO2, itupun mungkin masih memadai.”

Pada September lalu, sebuah konsorsium riset ilmiah bernama Proyek Karbon Global (GCP) menyatakan konsentrasi CO2 di atmosfir mencapai 383 ppm pada 2007, atau 37 persen di tas level pra-industri. Konsentrasi saat ini “tertinggi dalam 650.000 tahun terakhir dan kemungkinan dalam 20 juta tahun belakangan ini,” kata laporan itu.

Crowley memperingatkan mereka yang akan memanfaatkan pengkajian baru itu dengan menyatakan “karbon dioksida kini suatu hal yang baik karena mencegah kita menuju periode dingin membeku.” “Kami tak ingin memberi kesan kepada masyarakat,” katanya. “Anda tidak bisa mengunakan pendapat ini sebagai pembenaran terhadap pemanasan global (buatan manusia). Tahun lalu, Panel Antar-pemerintah mengenai Perubahan Iklim (IPCC) PBB yang meraih Nobel menyatakan bahwa emisi gas rumah kaca sudah menyebabkan perubahan yang tampak terhadap sistem iklim, terutama pada es dan salju. Bila dibiarkan tanpa pengendalian, perubahan iklim akan memicu kekeringan yang meluas dan banjir pada akhir abad ini, sehingga menyebabkan kelaparan, kehilangan tempat berteduh dan tekanan lainnya atas jutaan orang.

 

dari berbagai sumber

Provided by

Audi Yudhasmara

SAVE THE EARTH FOR NEXT GENERATION. Yudhasmara Foundation

Working together support to Save The Green Earth . Help Me Save The Earth 

email :  judarwanto@gmail.com   Office : JL Taman bendungan Asahan 5 Bendungan Hilir Jakarta Pusat 10210  Phone : (021) 70081995 – 5703646 

Supported by  : CLINIC FOR CHILDREN Yudhasmara Foundation   www.childrenclinic.wordpress.com/  SUPPORT TO THE HEALTH OF ALL CHILDREN BY CLINICAL, RESEARCH AND EDUCATIONS.  Advancing of the future pediatric and future parenting to optimalized physical, mental and social health and well being for fetal, newborn, infant, children, adolescents and young adult    

Copyright © 2010, Save The Earth For Next Generation. Information Education Network. All rights reserved


Responses

  1. selamatkan bumi kita!!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori