Oleh: Aku Anak Indonesia | November 7, 2010

Earth Our, Matikan Listrik Satu Jam Selamatkan Bumi

Earth Our, Matikan Listrik Satu Jam Selamatkan Bumi

Satu miliar orang akan mematikan listrik dalam Earth Hour. Benarkah kegiatan 1 jam setiap tanggal 27 Maret berdampak besar dapat menyelamatkan bumi?   Upaya penyelamatan bumi dengan Earth Hour itu digagas oleh WWF (World Wild Fund). Saat puncak acara Earth Hour saat itu, seluruh lampu di silang Monas akan dimatikan pada jam 20:30 sampai 21:30. Sebanyak 300 gedung di kawasan bisnis segitiga emas Gatot Subroto-Sudirman Thamrin-Kuningan Jakarta, juga akan mematikan lampunya. Lebih dari 4.000 kota di 125 negara akan berpartisipasi dalam aksi global untuk Earth Hour sebagai aksi bersama mengurangi laju perubahan iklim.

Kegiatan kecil itu bisa memiliki dampak besar ke seluruh dunia, karena secara serempak dilaksanakan. Jika 10% saja penduduk Jakarta mau ikut serta dalam programini, maka akan menghemat 300MW listrik, setara dengan listrik untuk 900 desa. Juga akan mengurangi 267 ton emisi CO2 yang sama dengan penanaman 267 pohon, karena 1 pohon bisa menghirup CO2 sebanyak 1 ton sepanjang hidupnya.

Selain Jakarta, berbagai kota juga akan mendukung seperti Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Bali, Medan dan kota di Kalimantan. Ratusan perusahaan yang memiliki cabang di berbagai daerah juga berkomitmen akan mematikan listrik selama 1 jam.  Sekitar  78% konsumsi energi nasional diserap oleh Pulau Jawa dan Bali, 23% terkonsentrasi di DKI Jakarta dan Tangerang. Dari 23% tersebut 33% adalah sektor rumah tangga yang paling banyak menghabiskan energi listrik, kedua industri dengan 30%, disusul bisnis dan gedung komersiil 30%, gedung pemerintahan 3% dan 4% oleh fasilitas publik dan sosial. Indonesia akan menjadi bagian dari 1 miliar penduduk dunia yang ikut serta dalam program Earth Hour. Pada 2009 lalu penduduk Indonesia yang ikut serta sekitar ratusan ribu orang, sementara target 2010 ini adalah jutaan orang bisa bergabung mematikan lampu dan listrik secara serentak,.

Memang isu lingkungan tidak segemerlap politik tetapi kami ingin masyarakat sadar dengan lingkungannya. Pejuang lingkungan akan terus berjuang dengan berbagai peringatan isu lingkungan, Earth Day, Water Day, mencegah pembalakan liar, perawatan daerah aliran sungai, dan sebagainya. Intinya kami ingin mengajak manusia mengubah gaya hidup agar lebih menghargai lingkungan dan menghimbau bisa ikut serta dalam program kampanye tersebut.

Kampanye Earth Hour bisa berdampak untuk menekan emisi gas rumah kaca dan menghemat energi. Meskipun hanya 1 jam dan terlihat seperti tidak efektif, tetapi efek dominonya akan sangat besar ke depan.  Di balik keingintahuan masyarakat tentang Earth Hour akan memicu pertanyaan yang akhirnya akan mengajak masyarakat mengimplementasikannya untuk menyelamatkan bumi dari pemanasan global dengan kesadaran. Ini adalah simbol dan bentuk kepedulian masyarakat terhadap penanggulangan perubahan iklim, terutama melalui upaya penghematan energi dari penggunaan listrik.

Listrik dan Energi Dunia

Listrik bagi masyarakat dunia seperti juga bagi bangsa Indonesia telah menjadi kebutuhan vital masyarakat modern dan juga bahan bakar roda pembangunan. Listrik, bahkan, dijadikan tolok ukur majunya suatu peradaban. Hanya saja, penyediaan dan pemanfaatan listrik di Indonesia masih banyak bergantung pada energi fosil terutama minyak bumi dan produk turunannya. Energi fosil bersifat tidak terbarukan sehingga bila terus dieksploitasi, cadangannya akan menipis dan mungkin akan habis. Saat ini saja Indonesia sudah bisa dikategorikan sebagai negara yang lebih banyak mengimpor minyak dibandingkan mengekspornya.

Karena itu, fluktuasi harga minyak bumi dunia akan sangat berpengaruh dan dapat mengguncang ekonomi Indonesia. Tekanan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara juga akan meningkat mengingat pemerintah membeli minyak bumi dengan harga dunia sedangkan harga bahan bakar minyak dan listrik di dalam negeri dijual murah karena masih mendapat subsidi dari pemerintah.

Walaupun realisasi subsidi energi pada 2009 sebesar Rp 94,6 triliun (10 persen total pengeluaran negara) sudah jauh berkurang dibanding tahun sebelumnya (Rp 230,51 triliun), tetapi jumlah ini 1,5 kali lebih besar dari total subsidi non-energi (Rp 64,9 triliun). Di sisi lingkungan, ketergantungan terhadap minyak bumi ataupun energi fosil lainnya telah memberikan dampak buruk, terutama dari emisi karbon yang dikeluarkan, baik dari proses penyediaan maupun pemanfaatannya. Akumulasi emisi dalam jumlah besar di atmosfer—sekitar 80 persen dari emisi global berasal dari sektor pengguna energi secara intensif—telah berkontribusi pada terjadinya pemanasan global dan perubahan iklim.

Untuk mengatasinya dibutuhkan keterlibatan semua pemangku kepentingan, baik pemerintah, swasta, maupun masyarakat secara umum. Pola pengelolaan selama ini yang bertumpu pada pendekatan pasokan (supply side management) perlu diimbangi dengan pengelolaan dari sisi permintaan (demand side management), yaitu dengan meningkatkan konservasi dan efisiensi energi.

Undang-Undang Energi Nomor 30 Tahun 2007 telah mengamanatkan bahwa konservasi energi merupakan tanggung jawab semua elemen, baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, pengusaha, maupun masyarakat. Sesungguhnya, program efisiensi dan konservasi energi sudah ada sejak lama, yaitu sejak Kebijakan Umum Bidang Energi 1981 sampai dengan Kebijakan Energi Nasional yang ditetapkan berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2006.

Hanya saja, hasil yang dicapai masih belum efektif dan menghadapi berbagai kendala. Salah satu kendala utamanya adalah gaya hidup masyarakat yang masih boros energi. Hal ini bisa disebabkan karena kurangnya pemahaman mengenai hemat energi ataupun karena harga energi yang relatif murah sehingga mendorong pola konsumsi yang lebih boros. Dari kerja sama Japan International Cooperation Agency (JICA) dengan beberapa institusi di Indonesia didapat masukan, pada 2007-2009 terdapat potensi efisiensi energi 10-30 persen (untuk sektor rumah tangga), 10-23 persen (komersial) dan 7-21 persen (industri).

Sekecil apa pun kontribusi yang bisa dilakukan, akan memberikan perubahan yang positif bagi ketahanan energi, pembangunan ekonomi, serta kelangsungan hidup di bumi. Bumi bukan hanya tempat tinggal yang harus nyaman bagi generasi sekarang, melainkan juga bagi generasi yang akan datang. Setiap detik yang dilakukan dapat memberikan warna dan makna yang berbeda dalam kehidupan

Kampanye global WWF Earth-Hour dari sisi semangatnya sangat bagus. Hal itu menanamkan pembelajaran pada masyarakat pentingnya listrik yang mempunyai dampak pada pemanasan global. Di Indonesia listrik bukanlah barang murah dan bukan hanya dibangkitkan oleh air (PLTA) tetapi juga dari batubara dan bahan bakar minyak (BBM). Tampaknya antusiasme masyarakat Indonesia agak kurang dalam menyambut Earth-Hour. Hal itu karena banyak masyarakat Indonesia yang enggan mematikan lampu akibat banyaknya pemadaman listrik bergilir yang mempersulit himbauan itu. Jadi Anda akan ikut mematikan listrik

Menghemat Listrik 811 Megawatt

Program mematikan lampu secara sukarela selama satu jam pada 27 Maret 2010 lalu berhasil menghemat energi listrik se Jawa-Bali hingga 811 Megawatt.  Ini berarti ada peningkatan yang signifikan dari target yang semula ditetapkan yaitu 500 Megawatt. Pencapaian tahun ini juga meningkat dibandingkan Earth Hour 2009 yang berhasil menurunkan beban listrik se Jawa-Bali sebesar 180 Megawatt.  Jakarta berhasil menurunkan beban listrik hingga 150 MW. Angka ini , hampir dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan tahun lalu, yang mencapai 80 MW. Ini merupakan bukti nyata bahwa masyarakat kita sudah semakin aware terhadap isu perubahan iklim. Tahun ini keterlibatan komunitas untuk Earth Hour mengalami peningkatan yang signifikan.  Angka penghematan ini sesungguhnya masih bisa ditingkatkan lagi. Jika 10 persen warga Jakarta ikut mematikan lampu pada kampanye Earth Hour, maka dapat dilakukan penghematan listrik hingga 300 MW. Penghematan 300 MW itu setara dengan 1.080.000 MegaJoule (MJ) yang berpotensi menghemat hingga 216, 6 juta rupiah . Total 300 MWh itu juga setara dengan satu pembangkit listrik, yang berarti bisa menghemat 267,3 ton karbondioksida (CO2).

 

Provided by

SAVE OUR GREEN EARTH. Yudhasmara Foundation

Working together support to Save The Green Earth . Help Me Save The Earth 

email :  judarwanto@gmail.com   Office : JL Taman bendungan Asahan 5 Bendungan Hilir Jakarta Pusat 10210  Phone : (021) 70081995 – 5703646 

supported by :  “CLINIC FOR CHILDREN”  Yudhasmara Foundation   www.childrenclinic.wordpress.com/  SUPPORT TO THE HEALTH OF ALL CHILDREN BY CLINICAL, RESEARCH AND EDUCATIONS.  Advancing of the future pediatric and future parenting to optimalized physical, mental and social health and well being for fetal, newborn, infant, children, adolescents and young adult

 

 

Copyright © 2010, Save Our Green Earth. Information Education Network. All rights reserved


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori